Berkunjung ke Keraton Kasepuhan, Ikon Wisata Sejarah Kota Cirebon

Tak hanya terkenal dengan wisata kulinernya, Cirebon juga memiliki tempat wisata sejarah. Kota yang terletak di pantai utara Pulau Jawa ini merupakan bekas wilayah Kesultanan Cirebon yang berdiri pada abad ke-14 Masehi.

Kerajaan ini merupakan penghubung dua daerah dengan kebudayaan berbeda, yaitu: Jawa dan Sunda.

Berhubung pernah menjadi wilayah kerajaan, Cirebon memiliki banyak peninggalan sejarah yang kini dijadikan tempat wisata. Salah satu tempat wisata sejarah yang paling terkenal adalah Keraton Kasepuhan.
Yuk, cari tahu selengkapnya tentang Keraton Kasepuhan!

Sejarah Singkat Keraton Kasepuhan

Sejarah Singkat Keraton Kasepuhan

Source - wikimedia

Keraton Kasepuhan merupakan keraton termegah di Cirebon. Dibangun pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II, keraton terbesar di Cirebon ini masih berdiri kokoh dan terawat hingga saat ini. Keraton tersebut masih dijaga agar arsitekturnya tetap seperti sedia kala.

Pada saat dibangun, keraton ini diberi nama Keraton Pakungwati, nama yang dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap Ratu Dewi Pakungwati. Perubahan nama terjadi karena adanya konflik internal Kerajaan Cirebon. Kerajaan ini terbelah menjadi dua wilayah, yaitu: 

Kasepuhan dan Kanoman. Keraton Pakungwati pun menjadi bagian wilayah Kasepuhan. Karena itulah, keraton ini kemudian dikenal dengan nama sekarang.

Arsitektur Keraton Kasepuhan

Arsitektur Keraton Kasepuhan
 
Source -wikimedia

Keraton Kasepuhan merupakan kompleks bangunan lawas. Pintu gerbang utamanya terletak di bagian utara dan berupa jembatan yang dinamai Kreteg Pangrawit. Sementara pintu kedua berada di bagian belakang atau arah selatan; disebut sebagai lawang sanga (pintu sembilan).
Di bagian depan keraton ini, terdapat dua bangunan utama yang disebut Pancaratna dan Pancatiti. Bangunan Pancaratna memiliki luas 8 x 8 meter, empat pilar utama (soko guru), dan dua belas tiang kecil. Lantainya menggunakan tegel, sedangkan atapnya memiliki hiasan kubah atau mamola. Bangunan ini dulunya digunakan untuk menerima para pembesar desa yang berkunjung ke keraton.

Pancatiti yang berada di bagian sebelah timur merupakan sebuah pendopo. Ukurannya sama dengan Pancaratna, tetapi kegunaannya berbeda. Pancatiti digunakan untuk pelatihan prajurit.
Semakin masuk ke dalam kompleks keraton, Anda akan sampai ke area Siti Inggil yang berartitanah tinggi. Area Siti Inggil ini terdiri dari lima bangunan yang memiliki fungsi berbeda-beda. Kelima bangunan tersebut digunakan untuk menghukum prajurit, tempat para pengawal sultan, tempat penasihat sultan, tempat pengiring sultan, dan tempat pengiring gamelan.

Bangunan selanjutnya berada di area yang disebut Tajug Agung (musala agung). Sesuai namanya, area ini adalah musala yang dulunya digunakan oleh kerabat keraton untuk beribadah.

Bangunan yang dapat Anda lihat selanjutnya adalah area utama keraton. Di area keraton yang terluas ini, Anda dapat melihat-lihat berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Cirebon. Banyak bangunan berdiri di area ini, seperti Taman Dewandaru yang berbentuk bulat, museum benda kuno, museum kereta, lunjuk; tempat tamu raja melapor, sri manganti; tempat raja membuat keputusan, dan bangunan induk keraton.

Di dalam bangunan induk keraton, pengunjung Keraton Cirebon dapat melihat bangunan-bangunan tempat sultan melakukan kegiatan pemerintahan. Selain itu, area ini juga merupakan tempat tinggal keluarga kerajaan, termasuk bangunan kaputran dan kaputren untuk tempat tinggal putra dan putri sultan.

Lokasi Keraton Kasepuhan



Source - wikimedia

Keraton Kasepuhan terletak di Jalan Kasepuhan 43, Kota Cirebon, tepat berada di belakang alun-alun Kasepuhan. Baik dari Stasiun Cirebon Kejaksan (CN) dan Stasiun Cirebon Prujakan (CNP), keraton ini hanya berjarak kurang dari lima kilometer.

Hal ini tentunya memudahkan pengunjung yang datang ke Cirebon menggunakan kereta api yang tiketnya dapat dipesan melalui situs Traveloka, atau bisa langsung klik link ini: https://www.traveloka.com/kereta-api.

Cirebon memang kota di jalur pantai utara Pulau Jawa yang sangat mudah dijangkau dengan kereta api. Ada sedikitnya sepuluh stasiun yang beroperasi di kota dan Kabupaten Cirebon. Setiap hari, stasiun tersebut menerima penumpang dari berbagai rute dan kelas kereta api.

Untuk sampai ke Cirebon Anda dapat memilih tiket kereta api sesuai dengan bujet Anda. Untuk mendapatkan tiket dengan harga paling terjangkau, Anda dapat mengeceknya langsung di situs Traveloka.

Akulturasi Budaya dan Toleransi Agama

Selain memiliki artitektur megah dan mudah dijangkau, Keraton Kasepuhan juga melambangkan akulturasi budaya Sunda, Jawa, Tiongkok, dan Eropa. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan sejarah di dalam keraton ini. Selain itu, peninggalan sejarah Keraton Kasepuhan juga merupakan perpaduan antara agama Hindu, Buddha, dan Islam. Menarik sekali, bukan?


EmoticonEmoticon