Billboard Ads

Pada masa modern ini, manusia semakin rentan terhadap penyakit. Ini terjadi di mana saja termasuk di Benua Asia. Indonesia yang ada di kawasan tersebut tak bisa menghindarinya. Oleh sebab itu, penelitian medis tentang beragam penyakit sangat penting. Inilah hal yang kini didukung penuh oleh Tanoto Foundation, yayasan sosial yang digagas pendiri Royal Golden Eagle (RGE), Sukanto Tanoto.



Source: Inside RGE

Tanoto Foundation merupakan organisasi nirlaba yang dipakai oleh pendiri RGE, Sukanto Tanoto, untuk mewujudkan mimpi besarnya. Pria yang merintis grup Raja Garuda Mas ini ingin menghapuskan kemiskinan dari Indonesia. Pendekatan yang diambil di dalam Tanoto Foundation terbagi menjadi tiga bagian utama, yakni pemberdayaan masyarakat, peningkatan kualitas hidup, serta pendidikan.

Aspek kesehatan termasuk ke dalam peningkatan kualitas hidup. Akibatnya beragam penelitian medis yang bermanfaat didukung penuh oleh Tanoto Foundation. Tujuannya agar semakin banyak obat atau solusi terhadap beragam penyakit yang menjangkiti orang banyak.

Saat ini, ancaman beragam penyakit mematikan membayangi masyarakat Indonesia. Ada sejumlah masalah kesehatan yang kerap merenggut nyawa. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan telah berhasil memetakannya pada 2015 setelah menggelar survei pada 2014.

“Data dikumpulkan dari sampel yang mewakili Indonesia, meliputi 41.590 kematian sepanjang 2014. Pada semua kematian itu dilakukan autopsi verbal, sesuai pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO) secara real time oleh dokter dan petugas terlatih,” jelas Ketua Balitbangkes Prof. Dr. Tjandra Yoga, seperti dilaporkan oleh CNN Indonesia.

Hasil dari penelitian tersebut sangat bermanfaat. Balitbangkes berhasil mengidentifikasi sepuluh penyakit paling mematikan di Indonesia. Deretan penyakit paling berbahaya tersebut sejatinya sudah tidak asing lagi. Publik telah mengenalnya dengan baik seperti cerebrovaskular atau pembuluh darah di otak seperti pada pasien stroke, penyakit jantung iskemik, diabetes melitus, tubercolusis pernapasan, dan hipertensi.

Deretan penyakit tersebut kini kian menjadi perhatian khusus bagi dunia medis. Pasalnya, problem yang muncul bersifat degeneratif. Penyakit tidak hadir akibat tertular dari pihak lain, melainkan karena gaya hidup yang tidak sehat atau usia. Hal itulah yang menyebabkan kerusakan organ tubuh dengan sendirinya.

Kenyataan itu membuat Tanoto Foundation tergerak untuk membantu. Maka, yayasan sosial yang digagas oleh pendiri grup Royal Golden Eagle ini meluncurkan program dukungan terhadap riset medis. Mereka melakukannya lewat kegiatan yang dinamai sebagai Tanoto Foundation Professorship.

Dalam program ini, Tanoto Foundation memberikan donasi ke sejumlah peneliti. Dananya dapat dimanfaatkan untuk melakukan penelitian yang memberi manfaat bagi kesehatan umat manusia.

Saat melakukannya, yayasan sosial hasil inisiatif pendiri grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini tak membatasi lokasi. Mereka tak melulu mendukung riset di Indonesia. Kegiatan lain di luar negeri juga mereka lakukan karena manfaatnya dapat dirasakan di dalam negeri.

Salah satu contohnya dilakukan di Singapura. Pada 2014, Tanoto Foundation memberi dukungan terhadap riset tentang masalah cardiovascular yang dilakukan oleh Professor Stuart Cook dari National Heart Centre Singapore (NHCS).

Penelitian yang dilakukan oleh Cook menekankan terhadap problem yang dikenal sebagai cardiomyophaty. Ini adalah salah satu masalah jantung yang cukup banyak diderita oleh orang banyak. Diperkirakan satu dari 250 orang terkena masalah tersebut.

Jika terkena cardiomyophaty, risiko yang ditanggung penderita besar. Pasalnya, otot jantungnya melemah, tegang, serta tidak mampu memompa darah dengan baik. Akibatnya bisa fatal seperti kelainan ritme jantung, gagal jantung, bahkan kematian mendadak.

Penyebab cardiomyophathy ditengarai adalah mutasi gen yang disebut titin. Titin pula yang diidentifikasi sebagai salah satu pemicu cardiomyopathy bagi ras kaukasia. Namun, Cook sedang berusaha meneliti kaitannya dengan ras di Asia.

Jika berhasil, ini akan menjadi sumbangan besar bagi kesehatan masyarakat di Asia. Orang dengan risiko tinggi terkena cardiomyopathy akan bisa diidentifikasi. Dengan demikian, mereka bisa mendapat perawatan khusus atau malah membuat langkah antisipatif supaya penyakit mematikan tersebut tidak menjangkiti.

Bagi orang Indonesia, hal ini juga akan bermanfaat. Patut diketahui, berdasarkan riset dari Balitbangkes, jantung iskemik merupakan penyakit paling mematikan kedua di negeri kita. Artinya akan ada banyak pihak  di Indonesia yang tertolong jika riset Cook sukses.

RAGAM DUKUNGAN LAIN



Pendiri RGE yang juga penggagas Tanoto Foundation, Sukanto Tanoto, mempercayai kualitas hidup seseorang akan berpengaruh terhadap masa depannya. Jika kondisi hidup seseorang buruk, hampir dipastikan dirinya akan kesulitan untuk meraih kesuksesan.

Contoh nyata terkait dengan kesehatan. Jika tidak memiliki tubuh yang bugar, maka seseorang tidak akan mampu mengeluarkan potensinya secara maksimal. Inilah yang akan menyulitkan diri mereka sendiri untuk berjuang memperbaiki hidup. Kalau itu terjadi, belenggu kemiskinan sangat mungkin mendera seseorang terus-menerus.

Kondisi seperti yang mengundang Tanoto Foundation untuk aktif melakukan dukungan terhadap beragam riset yang berkaitan dengan medis. Tujuannya agar kualitas hidup seseorang dapat terangkat.

Contoh nyata dilakukan yayasan nirlaba hasil inisiatif Sukanto Tanoto pada 2016. Mereka memberikan dukungan terhadap penelitian tentang kanker limfoma yang dilakukan oleh Professor Lim Soon Thye.  Ia menjalankan riset untuk meningkatkan diagnosis problem Non-Hodgkin’s Lymphoma. Penelitian itu dinilai penting oleh pendiri Royal Golden Eagle karena amat berguna bagi masyarakat Asia.

“Kami berharap penelitian kanker limfoma yang terfokus ke Asia akan menghasilkan terobosan dalam diagnosis dan perawatan. Dengan demikian, kualitas hidup pasien dan keluarganya akan meningkat,” tandas Sukanto Taoto, pendiri grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas tersebut.

Masih ada kegiatan riset lain yang mendapatkan dukungan serupa dari Tanoto Foundation. Sebelumnya pada 2009, mereka memberikan donasi sebesar 5 juta dollar Singapura kepada Duke-NUS yang melakukan penelitian tentang diabetes. Dukungan penuh diberikan karena terkait langsung dengan masyarakat di Asia.

Dalam risetnya, Duke-NUS melakukan penelitian tentang diabetes di sejumlah etnis di Asia. Saat itu mereka meneliti pola makan hingga kebudayaan yang ada di masyarakat. Sesudahnya dicari keterkaitan dengan problem gula darah yang kerap melanda orang Asia.
Tanoto Foundation berharap penelitian Duke-NUS itu akan bermanfaat bagi masyarakat Asia secara umum, namun manfaatnya diyakini juga akan dinikmati oleh orang Indonesia. Patut disadari, berdasarkan penelitian Balitbangkes, diabetes melitus merupakan penyakit paling mematikan ketiga di Indonesia. Artinya penyakit ini sangat berbahaya.

Sementara itu, terkait penyakit mematikan lain seperti jantung, Tanoto Foundation juga mendukung risetnya. Contohnya dilakukan pada 2014. Mereka memberi dukungan kepada National Heart Research Institute Singapore (NHRIS) yang berinisiatif mendirikan pusat penelitian jantung.

Berada di Singapura, pusat riset jantung ini diharapkan menjadi sentra penelitian jantung di Asia. Secara khusus, ada beberapa area yang menjadi fokus riset, yakni  fungsi jantung, faktor genetis, penyakit jantung akibat problem metabolisme, dan cardiac imaging.

Tanoto Foundation tak pernah ragu memberi dukungan terhadap beragam riset medis karena akan memberi manfaat bagi banyak pihak. Ini juga selaras dengan prinsip kerja Royal Golden Eagle. Mereka ingin dapat berguna bagi masyarakat, negara, hingga berpartisipasi aktif dalam menjaga keseimbangan iklim.
By